Banyak remaja sekarang yang terjebak
dengan tipu muslihat syaitan dengan cara berpacaran. Padahal sudah jelas
hal tersebut dilarang dalam agama, sebab akibat yang ditimbulkannya pun bukan
hanya berdampak buruk bagi pelaku, namun juga buruk bagi masyarakat, agama, dan
lain-lain. Apalagi di zaman yang semakin modern ini banyak media sosial yang
sangat mudah diakses oleh siapa saja, contohnya facebook. Tidak sedikit
remaja yang berpacaran melalui facebook atau bahkan mereka saling kenal karena
adanya facebook. Mereka berpacaran tanpa mengerti apa kerugian dan bagaimana
hukumnya, sebab pacaran lebih dikenal oleh masyarakat muslim di Indonesia.
Seakan sebagian muslim sudah terbawa pergaulan dunia barat yang jauh dari
syariat islam. Perilaku orang tua dan pergaulan remaja seakan telah
menjerumuskan dan menghancurkan semua norma keislaman yang kita miliki secara
hakiki. Peran orang tua mungkin sangat berpengaruh besar, seandainya saja orang
tua kita lebih bisa memahami dan menerangkan taaruf, mungkin kita juga tidak
akan pernah terjebak kisah cinta yang dihalalkan setan dibandingkan dihalalkan
Allah. Sebenarnya tak ada yang harus disalahkan, hanya diri kita sendiri yang
bisa berpikir jernih untuk mulai menghidupkan kembali norma-norma keislaman
yang kita punya.
Pacaran lebih diartikan sebagai
hubungan yang dijalani ketika seorang pria dan wanita saling menyukai satu sama
lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk melangkah kehubungan yang lebih
serius lagi, atau sebagai status yang melegalkan mereka untuk merasa bebas saat
terlihat berdua dan saling mengungkapkan ekspresi sayang. Dari pernyataan tersebut
bisa diambil kesimpulan bahwa dengan pacaran kita bisa lebih mudah mengikuti
alur hawa nafsu ke arah negatif, naudzubillahmindzalik. Bayangkan saja
kalau rasa cinta kita yang fitrah ini diumbar bebas tanpa batas kepasangan kita
yang belum halal, apa yang terjadi? Bisa kita saksikan kehancuran moral
sebagian kaum muslimin yang sudah terlanjur mengikuti arusnya, mereka sudah
terhanyut dalam bisikan-bisikan syetan yang mengajak kesenangan sesaat, namun
menjadi penyiksaan kita di akhirat selamanya.
Berbeda dengan kaidah yang telah
diajarkan dalam agama, jika seorang pemuda telah merasa cocok dan ingin
menjalin hubungan yang lebih serius lagi, maka islam telah memberikan jalan
dengan cara taaruf. Ingat!! Taaruf bukan pacaran. Taaruf adalah bersilaturahmi.
Kalau pada masa kini kita bilang berkenalan, bertatap mata, atau main dan
bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan. Berkenalan disini dapat
diartikan untuk mencari jodoh. Taaruf
dimaksudkan untuk mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar
saling mengenal. Taaruf sangat beda dengan pacaran. Perbedaan hakiki antara
pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Karena menurut kaum
islam tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf
tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Namun, dalam kenyataannya, di zaman
sekarang ini, para remaja lebih dominan dan lebih condomng memilih pacaran.
Tadisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi
oleh tradisi individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari
proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan
efeksi yang eksklusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran sangat dipengaruhi oleh
agama dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Menurut presepsi yang salah,
hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta kasih yang
ditandai dengan adanya aktifitas-aktifitas seksual dan percumbuan. Tradisi
seperti ini dipraktikkan oleh orang-orang yang tidak memahami makna kehormatan
diri perempuan, tradisi ini dipengaruhi oleh media massa yang menyebarkan
kebiasaan yang tidak dimuliakan kaum perempuan. Sampai sekarang, tradisi
berpacaran yang telah nyata melanggar norma hukum, norma agama, maupun norma sosial,
di Indonesia masih terjadi dan dilakukan secara turun temurun dari generasi
yang tidak memiliki pengetahuan menjaga kehormatan dan harga diri yang
semestinya mereka jaga dan pelihara. Maka dari itu, kita lebih dianjurkan untuk
bertaaruf.
Bertaaruf lebih utama daripada
pacaran, karena taaruf sebenarnya hanya untuk penjagaan sebelum menikah. Taaruf
Insya Allah niatnya untuk menikah lillahi ta’ala. Kalau tidak cocok ya
bertawakal saja, mungkin bukan jodoh. Taaruf juga lebih fair, masa
penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing,
baik kebaikannya atau keburukannya. Melalui taaruf kita boleh mengajukan
kriteria calon yang kita inginkan, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka
waktu taaruf ke lamaran dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Selain itu, dari
taaruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya
ada pihak ketiga yang memperkenalkan.
Dari dampak yang telah disebutkan,
pacaran lebih tidak diperkenankan karena akan merugikan diri sendiri dan orang
lain, apalagi kalau kita kenalnya melalui media sosial, itu lebih bahaya, sebab
kita belum tahu bagaimana sifat-sifat orang tersebut.
Dibanding pacaran, dilihat dari segi
manfaatnya taaruf lebih sehat dan insya allah diridhoi Allah.
Prosesnyapun tak memakan waktu lama untuk melakukan khitbah.
Jadi pilihlah yang lebih baik
menurut ridho Allah dan ketentuan Allah. Kalau kita lebih mencari kebahagiaan
dunia akhirat dan menggapai ridho Allah maka jauhilah larangannya. Seperti
menjauhi pacaran, sebab pacaran adalah aktifitas yang mendekati zina, dan
taaruf lebih dianjurkan karena kelebihannya lebih banyak dari pacaran. Ingin
terus pacaran tapi tak kunjung menentukan tanggal pernikahan, malah menjebak
kita kepada kemaksiatan belaka. Sedangkan taaruf sangat diridhoi dan dianjurkan
Allah, dan prosesnyapun tak lama. Maka sebaiknya kita bertaaruf saja daripada berpacaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar