Jumat, 03 April 2015

Banyak remaja sekarang yang terjebak dengan tipu muslihat syaitan dengan cara berpacaran. Padahal sudah jelas hal tersebut dilarang dalam agama, sebab akibat yang ditimbulkannya pun bukan hanya berdampak buruk bagi pelaku, namun juga buruk bagi masyarakat, agama, dan lain-lain. Apalagi di zaman yang semakin modern ini banyak media sosial yang sangat mudah diakses oleh siapa saja, contohnya facebook. Tidak sedikit remaja yang berpacaran melalui facebook atau bahkan mereka saling kenal karena adanya facebook. Mereka berpacaran tanpa mengerti apa kerugian dan bagaimana hukumnya, sebab pacaran lebih dikenal oleh masyarakat muslim di Indonesia. Seakan sebagian muslim sudah terbawa pergaulan dunia barat yang jauh dari syariat islam. Perilaku orang tua dan pergaulan remaja seakan telah menjerumuskan dan menghancurkan semua norma keislaman yang kita miliki secara hakiki. Peran orang tua mungkin sangat berpengaruh besar, seandainya saja orang tua kita lebih bisa memahami dan menerangkan taaruf, mungkin kita juga tidak akan pernah terjebak kisah cinta yang dihalalkan setan dibandingkan dihalalkan Allah. Sebenarnya tak ada yang harus disalahkan, hanya diri kita sendiri yang bisa berpikir jernih untuk mulai menghidupkan kembali norma-norma keislaman yang kita punya.
Pacaran lebih diartikan sebagai hubungan yang dijalani ketika seorang pria dan wanita saling menyukai satu sama lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk melangkah kehubungan yang lebih serius lagi, atau sebagai status yang melegalkan mereka untuk merasa bebas saat terlihat berdua dan saling mengungkapkan ekspresi sayang. Dari pernyataan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa dengan pacaran kita bisa lebih mudah mengikuti alur hawa nafsu ke arah negatif, naudzubillahmindzalik. Bayangkan saja kalau rasa cinta kita yang fitrah ini diumbar bebas tanpa batas kepasangan kita yang belum halal, apa yang terjadi? Bisa kita saksikan kehancuran moral sebagian kaum muslimin yang sudah terlanjur mengikuti arusnya, mereka sudah terhanyut dalam bisikan-bisikan syetan yang mengajak kesenangan sesaat, namun menjadi penyiksaan kita di akhirat selamanya.
Berbeda dengan kaidah yang telah diajarkan dalam agama, jika seorang pemuda telah merasa cocok dan ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi, maka islam telah memberikan jalan dengan cara taaruf. Ingat!! Taaruf bukan pacaran. Taaruf adalah bersilaturahmi. Kalau pada masa kini kita bilang berkenalan, bertatap mata, atau main dan bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan. Berkenalan disini dapat diartikan untuk mencari  jodoh. Taaruf dimaksudkan untuk mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal. Taaruf sangat beda dengan pacaran. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Karena menurut kaum islam tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Namun, dalam kenyataannya, di zaman sekarang ini, para remaja lebih dominan dan lebih condomng memilih pacaran. Tadisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan efeksi yang eksklusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran sangat dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Menurut presepsi yang salah, hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta kasih yang ditandai dengan adanya aktifitas-aktifitas seksual dan percumbuan. Tradisi seperti ini dipraktikkan oleh orang-orang yang tidak memahami makna kehormatan diri perempuan, tradisi ini dipengaruhi oleh media massa yang menyebarkan kebiasaan yang tidak dimuliakan kaum perempuan. Sampai sekarang, tradisi berpacaran yang telah nyata melanggar norma hukum, norma agama, maupun norma sosial, di Indonesia masih terjadi dan dilakukan secara turun temurun dari generasi yang tidak memiliki pengetahuan menjaga kehormatan dan harga diri yang semestinya mereka jaga dan pelihara. Maka dari itu, kita lebih dianjurkan untuk bertaaruf.
Bertaaruf lebih utama daripada pacaran, karena taaruf sebenarnya hanya untuk penjagaan sebelum menikah. Taaruf Insya Allah niatnya untuk menikah lillahi ta’ala. Kalau tidak cocok ya bertawakal saja, mungkin bukan jodoh. Taaruf juga lebih fair, masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing, baik kebaikannya atau keburukannya. Melalui taaruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu taaruf ke lamaran dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Selain itu, dari taaruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan.
Dari dampak yang telah disebutkan, pacaran lebih tidak diperkenankan karena akan merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi kalau kita kenalnya melalui media sosial, itu lebih bahaya, sebab kita belum tahu bagaimana sifat-sifat orang tersebut.
Dibanding pacaran, dilihat dari segi manfaatnya taaruf lebih sehat dan insya allah diridhoi Allah. Prosesnyapun tak memakan waktu lama untuk melakukan khitbah.

Jadi pilihlah yang lebih baik menurut ridho Allah dan ketentuan Allah. Kalau kita lebih mencari kebahagiaan dunia akhirat dan menggapai ridho Allah maka jauhilah larangannya. Seperti menjauhi pacaran, sebab pacaran adalah aktifitas yang mendekati zina, dan taaruf lebih dianjurkan karena kelebihannya lebih banyak dari pacaran. Ingin terus pacaran tapi tak kunjung menentukan tanggal pernikahan, malah menjebak kita kepada kemaksiatan belaka. Sedangkan taaruf sangat diridhoi dan dianjurkan Allah, dan prosesnyapun tak lama. Maka sebaiknya kita bertaaruf saja daripada berpacaran.